Santai Bersama Shanti : Kebutuhan & Pemilihan Sekolah Anak

11:46:00 AM

Sebenernya ini acara ngobrol-ngobrol biasa alias curhat mamah-mamah, yang 'ntah dari mana jadi serius gitu! HAHAHA. Pake flyer segala.

(Sebelumnya, gue udah pernah curhat tentang bagaimana gue memilihkan sekolah untuk Kami)

Bermula dari kasak-kusuk di WA Grup, jadilah sepertinya kita perlu bertemu untuk saling curhat dan mendapat penguatan dari ibu-ibu, pleeuuuss dapt insight dari pakarnya, alias psikologi pendidikan, yang mana beruntung banget punya temen dengan profesi tersebut. Beliau ngga usah diperkenalkan, karena sering banget gue mention di sini hahahaha, Ibu Shanti :D

Kenapa dilema?
Karena memlih sekolah adalah salah keputusan yang besar banget dalam pengasuhan, terutama memilih sekolah untuk PAUD, TK, dan SD. Kalau untuk pilih SMP dan SMA, cenderung lebih mudah, karena anak sudah bisa diajak untuk diskusi (sudah lebih besar) dan sudah bisa diberikan kepercayaan untuk memilih.
Langkah pertama itu adalah langkah terberat, menurut gue. Karena di situlah pondasi awal untuk menentukan "anak gue mau di sekolahin di mana, nih?". Kriteria ngga bakal jalan, kalau ngga ada visi untuk pendidikan di dalam keluarga. Itu akan memudahkan (banget) untuk pengambilan langkah selanjutnya. Singkatnya, tujuan lo apa?

Selain visi, perhatikan kondisi finansial keluarga. PENTING. Pendidikan itu ngga cuma sampai PAUD & TK, jadi jangan terpaku dengan kondisi saat ini, tapi diingat kalau masih puluhan tahun anak kita sekolah.


Kalau udah satu visi, lebih mudah untuk bikin kriteria kaya contoh di atas. Kriteria ngga bisa disamain antar keluarga, karena balik lagi, nilai-nilai yang mau ditanamkan kepada anak, 'kan, beda-neda; visi-nya aja pasti berberda antar keluarga. Mau mulai darimana si kriteria juga bebaskaaan. Karena, ada (banyak) kasus dengan visi : di mana aja anak gue sekolah, yang penting uangnya cukup (ini berarti, biaya masuk di kriteria atas / paling prioritas).

Untuk memilih sekolah, Mbak Shanti memberikan tips mind-set untuk orang tua sebaiknya :
Sekolah adalah perpanjangan tangan orang tua untuk pendidikan.

Jadi udah sangat jelas, dari awal ditekankan, pendidikan dalam keluarga adalah kuncinya.

Sekolah yang bagus itu, yang gimana? Tanya Ibu Dela.
Balik lagi, lu mau tanemin values apa ke anak elu, yang nantinya bakal di-support sama sekolahan. Kalau menurut Dikti, sekolah yang bagus adalah sekolah yang tingkat kelulusannya adalah 100% dengan rata-rata nilai sekian. Nah, apakah pendidikan akademik yang demikian yang menjadi penting untuk anak lu? Kalau iya, masukkanlah ke sekolah berbasis akademik; kalau ngga, sekolahkanlah ke sekolah alam/sekolah agama/ atau yang menurut lu cocok.

Begicuh kira-kira.

Lanjut.

Ini. Ini salah satu godaan, karena kadang pengen ikut-ikutan temen HAHAHA. Makanya tujuan disekolain untuk apa, sangat penting untuk riset sekolah-sekolah yang tadi udah memenuhi kriteria di atas. 


Yang di bawah itu, yang ada tulisan Penting pake warna merah, sungguh, sungguh ada latar belakang masa kecil yang bikin gue.. mmmm, sedikit menyesal dengan keputusan gue sendiri. Ya, itu memang jadi pembelajaran, sih. Pembelajaran untuk bertanggung jawab atas pilihan gue. Uhuy.

Ceritanya gini, gue ditanya sama nyokap, mau SD mana; gue bilang mau SD itu karena bisa bareng Teh Pipit. Masuklah ke SD itu. Yang mana, seiring waktu berjalan, gue punya temen lain dan jadi ngga sedeket itu dengan Teh Pipit, malah tergolong bukan lagi temen deket. Terus, alasan gue memilih sekolah itu jadi terbantahkan. Manalah sekolah itu jauh, jemputan lama, dijemput jemputan paling awal, dianter paling akhir, hiks. Sedih gue. Belum lagi, SES di sekolah tersebut, membuat gue ngga memungkinkan berteman dengan ikut jalan-jalan kesana kemari. HUHUHUHU. Kasarnya, gue ngga ada uang untuk ikut dengan gaya hidup siswa kebanyakan.

Dulu, saat milih SD; nyokap gue berusaha untuk menyeimbangkan pendapat dengan meng-iya-kan pendapat gue, tapi akhirnya gue menyesal. Semoga ngga kejadian dengan pemilihan SD untuk Kami. Kalaupun kejadian, semoga pembelajaran tersebut efeknya baik buat gue sebagai orang tua, dan buat Kami. Ceileeeh, serius amat HAHAHAHA. Getek.

Satu hal yang gue catet di notes gue, adalah tentang memaksakan kehendak orang tua kepada anak. Itu mungkin terjadi. Yaiya, sekarang aja sering maksa mandi. Itu baru mandi, belum hal-hal lainnya nanti. 


Tenang, Nak. 

YOU'LL THANK ME LATER.

Untuk beberapa hal yang mungkin ngga kamu sukai dari cara orang tuamu.

* * *

Terkahir.


Nah, faktor X ini kadang nyebelin. Karena mungkin si sekolah X ini ngga masuk di peringkat atas pada kriteria yang tadi udah dibuat, tapi kok kayanya gue SREG BANGET YA. Eta terangkanlah.

Semoga Buibu Pakbapak dimudahkan dalam memilih sekolah untuk anak-anaknya. AAMIIIN. Karena gue masih gimana gitu, bukan masalah sekolahnya, tapi umurnya Kami ini loh, bulan Agustus lahirnya. SD-nya kapan, nih? 2018 apa 2019? HAHAHA. Pusing.

Terimakasi buibu, ditunggu sesi selanjutnya, yah! Mwah.


Teruntuk,
Mbak Shanti, kalau soundcloud-nya udah ada, kasi atuh linknya :D

3 comments:

  1. Lha gue juga puyengggg.. Nov si Millie huhuhuhuuu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. samaaa gimana dooonggggg huhu

      Delete
  2. "Kalau menurut Dikti, sekolah yang bagus adalah sekolah yang tingkat kelulusannya adalah 100% dengan rata-rata nilai sekian."

    >>> urang terlalu banyak ngurusin (calon) mahasiswa jadi yang disebut Dikti hahahah ngaco. monmaap ya..

    ReplyDelete

/ thank you for stopping by

Powered by Blogger.